Kamis, 24 Mei 2012

Resensi Stilistika


RESENSI BUKU KAJIAN STILISTIKA PERSPEKTIF KRITIK HOLISTIK
Karya: Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M. Hum.

Judul Buku     : Kajian Stilistika Perspektif Kritik Holistik
Pengarang       : Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M. Hum.
Penerbit           : UPT Penerbitan dan Pencetakan UNS (UNS Press)
Tahun Terbit   : 2010
Tebal Buku     : 318 halaman

Buku Kajian Stilistika Perspektif Kritik Holistik merupakan buku karangan Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M. Hum. yaitu hasil modifikasi atas disertasi penulis dalam meraih gelar Doktor di bidang Linguistik pada Program Studi Linguistik Deskriptif Program Pasca-sarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tahun 2009.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan stilistika novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) berupa diksi, kalimat, wacana, bahasa figuratif, dan citraan (faktor objektif), memaparkan latar sosiohistoris pengarang sebagai kreator stilistika RDP (faktor genetik), dan mendeskripsikan makna stilistika RDP secara holistik berkaitan dengan latar sosiohistoris pengarang berdasarkan tanggapan pembaca (faktor afektif).
Buku ini terdapat tujuh bab, di antaranya bab pertama yaitu pendahuluan yang membahas seputar karya sastra, bab kedua merupakan landasan teori dan kerangka berpikir, yang mana landasan teori menyajikan teori-teori yang digunakan sebagai acuan dalam analisis data penelitian, sedangkan kerangka berpikir menunjukkan alur sistematika berpikir dalam penelitian ini. Di dalam landasan teori membahas (1) stilistika dan bidang kajiannya, (2) gaya bahasa, ekspresi pengarang, dan gagasan, (3) stilistika dalam kajian sastra, (4) novel Indonesia metakhir, (5) teori strukturalisme dinamik, (6) teori semiotik, (7) teori interteks, (8) teori resepsi sastra, (9) teori holistik, dan (10) teori hermeneutik. Bab ketiga merupakan metode penelitian yang mana penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan strategi berpikir hermeneutik dalam perspektif kritik holistik. Penelitian ini merupakan studi kasus tunggal yakni stilistika RDP dan studi kasus terpancang (embedded case study) mengingat fokus utama penelitian yakni stilistika RDP sudah ditentukan sejak awal untuk membimbing arah penelitian. Kajian stilistika RDP ini termasuk kajian stilistika genetik yakni mengkaji stilistika RDP karya seorang pengarang, Ahmad Tohari. Sesuai dengan pendekatan kritik holistik, data penelitian terdiri atas tiga kelompok, yakni data faktor objektif berupa stilistika RDP yakni wujud pemanfaatan diksi, kalimat, wacana, bahasa figuratif, dan citraan, data faktor genetik berupa latar sosiohistoris pengarang, dan data faktor afektif berupa tanggapan pembaca terhadap stilistika RDP. Sumber datanya adalah pustaka dan narasumber (informant). Pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak dan catat, pustaka, wawancara mendalam (in-depth interviewing), dan focus group discussion (FGD). Validasi data dilakukan dengan teknik trianggulasi data dan trianggulasi teori.
Pemeriksaan kredibilitas data dilakukan dengan informant review, pembuatan data base, dan penyusunan mata rantai bukti penelitian. Adapun analisis data dilakukan dengan model interaktif dengan langkah reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan dan verifikasi data. Selanjutnya, pengungkapan makna stilistika RDP dilakukan dengan metode pembacaan model semiotik yakni pembacaan heuristik dan hermeneutik dengan pendekatan teori semiotik, interteks, dan resepsi sastra.
Pada bab keempat membahas tentang stilistika trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk (faktor objektif). Pada bab ini di antaranya mendeskripsikan tentang gaya kata (diksi), gaya kalimat, gaya wacana, bahasa figuratif, dan citraan. Hasil penelitian dengan pendekatan kritik holistik menunjukkan bahwa faktor objektif yakni stilistika RDP memiliki keunikan dan kekhasan (uniqueness and speciality) baik segi ekspresi (surface structure) maupun segi kekayaan maknanya (deep structure) yang tidak ditemukan dalam karya sastra lain sekaligus membuktikan kompetensi Tohari dalam pemberdayaan potensi bahasa. Hal itu dapat dilihat pada diksi yang unik dan khas Tohari meliputi kata konotatif, kata konkret, kata serapan, kata sapaan khas dan nama diri, kata seru, kata vulgar, kata dengan objek realitas alam, dan kata dari bahasa Jawa. Tiap jenis diksi tersebut memiliki fungsi masing-masing dalam mengekspresikan gagasan. Dari tujuh jenis diksi itu, kata konotatiflah yang dominan. Kalimat dalam RDP sangat variatif dari kalimat dengan sarana retorika, penyiasatan struktur, hingga penyimpangan kaidah. Wacana RDP juga beragam dari gaya wacana dengan kombinasi sarana retorika dan alih kode. Bahasa figuratif dalam RDP sangat indah dan kaya variasi sebagai hasil kreasi Tohari. Dengan bahasa figuratif itu bahasa RDP menjadi ekspresif, asosiatif, dan estetis. Dari bahasa figuratif yang diteliti yakni majas, tuturan idiomatik, dan peribahasa, majaslah yang dominan. Citraan kreasi Tohari mampu menghidupkan lukisan, membangkitkan imajinasi, emosi, dan intelektualitas pembaca. Citraan dalam RDP meliputi tujuh jenis yakni citraan penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, gerak, pencecapan, dan intelektual yang dimanfaatkan Tohari guna memberikan daya hidup, lebih ekspresif, dan mengesankan pembaca. Dari tujuh citraan itu, yang dominan adalah citraan intelektual.
Bab kelima membahas latar sosiohistoris Ahmad Tohari dalam stilistika novel Ronggeng Dukuh Paruk (faktor genetik), di antranya yaitu tentang biografi, karya-karya, latar sosiohistoris Ahmad Tohari, kondisi sosial-budaya pada dekade 1960-an, karakteristik kepengarangan Ahmad Tohari, dan faktor-faktor yang melatari lahirnya novel Ronggeng Dukuh Paruk. Bab keenam yaitu tentang makna stilistika trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk dalam tanggapan pembaca (faktor afektif), yang terdiri dari dimensi kultural, dimensi sosial, dimensi humanistik, dimensi moral, dimensi jender, dimensi religositas, dimensi multikultural dari novel Ronggeng Dukuh Paruk. Bab ketujuh berisi simpulan implikasi penelitian, dan saran.
Bidang kajian stilistika yang dianalisis dalam buku ini yaitu pembahasan karya sastra Ronggeng Dukuh Paruk yang memadukan kajian linguistik (dengan menganalisis diksi, kalimat, wacana, bahasa figuratif, dan citraan) dengan kajian makna stilistika trilogi novel RDP yang multidimensi dengan memanfaatkan teori semiotik, interteks, dan resepsi sastra. Selain itu, sejalan dengan pendekatan kritik holistik, guna memudahkan interpretasi makna RDP, dilakukan pula kajian latar sosiohistoris Ahmad Tohari sebagai pengarang beserta kondisi sosiokultural dekade 1960-an yang menjadi latar cerita RDP.
Deskripsi gaya kata (diksi) pada bagian ini dilakukan dengan memperhatikan wujud kata sebagai simbol serta maknanya sesuai dengan latar belakang Ahmad Tohari sebagai pengarang RDP. Kajian diksi RDP juga melihat fungsi kata sebagai media ekspresi pengarang dalam mengungkapkan gagasan dalam karya sastranya.oleh karena itu, deskripsi diksi mencoba membuka selubung-selubung misteri kekuatan makna yang ada di balik kata sebagai media ekspresi pengarang yang berfungsi sebagai simbol.
 Deskripsi diksi dimulai dengan mengidentifikasi data-data berupa kutipan yang melukiskan penggunaan diksi, kemudian mengkategorikannya ke dalam jenis-jenis diksi, baru diakhiri dengan analisis secara induktif dan deduktif disertai dengan argumentasi kritis. Deskripsi diksi dibagi menajadi tujuh bagian, yaitu kata konotatof, kata konkret, kata kata serapan dari bahasa asing, kata sapaan khas dan nama diri, kata seru khas Jawa, kata vulgar, dan kata dengan objek realitas alam.
Dalam mengkaji gaya kalimat, banyak pemanfaatan gaya kalimat unik dan khas dalam RDP yang sengaja diciptakan oleh Ahmad Tohari untuk menciptakan efek makna tertentu. Kalimat disusun dengan bervariasi baik dengan penyiasatan struktur maupun dengan penggunaan sarana retorika tertentu. Itu sering disebut forgrounding, pengedepanan dalam sastra guna memperoleh efek makna khusus.
Penggunaan sarana retorika pada RDP dilakukan Ahmad Tohari dengan mengkombinasikannya dengan gaya bahasa tertentu seperti paralelisme, repetisi, antitesis, paradoks, hiperbola, klimaks, dan antiklimaks. Dengan kalimat-kalimat yang variatif tersebut pengungkapan gagasan menjadi terasa efektif, ekspresif, dan indah, serta menggerakkan emosi dan mengembangkan imajinasi pembaca.
Salah satu unsur stilistika karya sastra adalah gaya wacana. Dalam mengkaji gaya wacana RDP yang diciptakan oleh Ahmad Tohari cukup bervariasi. pemanfaatan gaya wacana yang beragam itu sengaja diciptakan Ahmad Tohari untuk mencapai efek makna tertentu dan efek estetis. Oleh karena itu, dalam RDP benyak terdapat gaya wacana yang kompleks dengan memanfaatkan kombinasi gaya bahasa seperti paralelisme, repetisi, klimaks, antiklimaks, dan koreksio. Selain itu juga ditemukan banyak sekali gaya interferensi dan alih kode. Gaya wacana dalam RDP akan dikaji dalam dua bagian yaitu gaya wacana berkombinasi dengan sarana retorika dan gaya wacana alih kode.
Bahasa figuratif diartikan sebagai satuan kebahasaan yang memiliki makna yang tidak langsung, makna yang terkandung di balik kata yang tertulis (eksplisit). Dalam karya sastra, bahasa figuratif bersifat prismatis, memancarkan makna lebih dari satu. Pada dasarnya bahasa figuratif digunakan oleh sastrawan untuk menciptakan imajinasi dan daya asosiatif pada pembaca sehingga lukisan suasana dan pengungkapan terkesan lebih hidup.
Bahasa figuratif sering diterjemahkan sebagai bahasa kias, digunakan oleh sastrawan untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak langsung. Deskripsi bahasa figuratif dimaksudkan untuk mengkaji berbagai jenis bahasa figuratif yang diciptakan, dimanfaatkan, dan diberdayakan oleh Ahmad Tohari dalam RDP. Dalam bagian ini diupayakan menggali secara maksimal bahasa figuratif yang khas dan unik dalam RDP. Dalam hal ini analisis bahasa figuratif dikhususkan pada tiga jenis bahasa figuratif yakni pemajasan, idiomatik, dan peribahasa.
Pemilihan ketiga jenis bahasa figuratif didasarkan pada alasan bahwa ketiganya mewarnai kekhasan dan keunikan bahasa figuratif dalam RDP. Pemajasan dalam RDP diduga cukup dominan dan merupakan hasil kreasi Ahmad Tohari yang orisinil atau inovatif untuk mengekspresikan gagasan dalam karya sastranya secara estetis.
Salah satu bentuk penciptaan kerangka seni adalah pemakaian bahasa yang khas melalui pencitraan. Pencitraan kata dalam karya sastra merupakan daya penarik indera melalui kata-kata yang mampu mengobarkan emosi dan intelektual pembaca. Dalam karya sastra, pencitraan kata berfungsi membuat (lebih) hidup gambaran dalam penginderaan dan pikiran, menarik perhatian, dan membangkitkan intelektualitas dan emosi pembaca dengan cepat. Pencitraan dilakukan dengan memanfaatkan kata-kata yang imajinatif dan asosiatif guna menghidupkan gagasan yang diungkapkan.
Kajian citraan dimulai dengan mengidentifikasi data-data berupa kutipan yang melukiskan penggunaan citraan, kemudian mengkategorikannya ke dalam jenis-jenis citraan, baru dideskripsikan dengan argumentasi kritis pencitraan yang mengiringinya. Selain itu, dikaji latar belakang pemanfaatan aneka ragam citraan dalam RDP, fungsi dan alasan dipergunakannya citraan itu dalam RDP.
Karya sastra merupakan dunia imajinatif yang merupakan hasil kreasi pengarang setelah merefleksi lingkungan sosial kehidupannya. Dunia dalam karya sastra dikreasikan dan sekaligus ditafsirkan lazimnya melalui bahasa. Struktur novel dengan segala sesuatu yang dikomunikasikan selalu dikontrol langsung oleh manipulasi bahasa pengarang. Demi efektivitas pengungkapan, bahasa dalam sastra disiasati, dimanipulasi, dieksploitasi, dan didayagunakan sedemikian rupa. Oleh karena itu, bahasa sastra memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda dengan karya nonsastra.
Sastra sebagai karya seni, dalam perkembangan mutakhir tidak hanya bermediumkan bahasa. Sastra lain ada yang menggunakan medium lain misalnya seperti lukisan, gambar, garis, atau simbol lain. Bahasa sastra memiliki beberapa ciri khas, yakni penuh ambiguitas dan homonim, memiliki kategori-kategori yang tidak beraturan dan tidak rasional seperti jender (jenis kata yang mengacu pada jenis kelamin dalam tata bahasa), penuh dengan asosiasi, mengacu pada ungkapan atau karya sastra yang diciptakan sebelumnya atau konotatif sifatnya.
Dipilihnya stilistika RDP karya Ahmad Tohari karena diduga merupakan salah satu novel Indonesia mutakhir yang memiliki keunikan dan kekhususan baik segi ekspresi maupun maupun segi kekayaan maknanya. Pada kriteria pertama, RDP melukiskan latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh yang terdiri atas orang-orang desa yang sederhana dengan menarik, bahkan tidak jarang sangat menarik. RDP disajikan dengan cara yang menggugah perasaan ingin tahu, suatu masalah yang bagi kita sebenarnya sangat lazim. Yang mengasyikan dalam penelitian ini adalah gambaran tandas yang berhasil dibangkitkan Ahmad Tohari yang mengikis khayalan indah tentang kehidupan pedesaan di Jawa. RDP mengungkapkan budaya lokal Banyumas Jawa Tengah yang khas dengan karakteristik, keunikan, dan permasalahannya dengan cara khas sastra.
RDP banyak dinilai kritikus sastra memiliki nilai lebih karena keberhasilannya mengungkapkan fenomena sosial budaya yang khas dalam sistem politik di Indonesia. RDP memaparkan fenomena yang belum pernah terjadi di dunia sastra Indonesia, yaitu kehidupan dunia ronggeng yang khas dengan latar sejarah malapetaka politik G30S/PKI dengan segala eksesnya.
Stilistika Ronggeng Dukuh Paruk dipandang sebagai gejala semiotik atau sebagai tanda. Sebagai tanda, karya sastra mengacu pada sesuatu di luar dirinya. Bahasa sastra yang terformulasi dalam stilistika merupakan penanda yang menandai sesuatu, dan sesuatu itu disebut petanda, yakni yang ditandai oleh penanda. Makna karya sastra sebagai tanda adalah makna semiotiknya, yakni makna yang bertautan dengan dunia nyata.
RDP karya sastra bermediumkan bahasa yang terwujud dalam stilistika, tentu memiliki makna yang implisit. Stilistika RDP merupakan penanda yang memiliki petanda. Artinya, ada makna implisit di balik stilistika yang eksplisit. Dalam menganalisis makna semiotik tanda berupa Indekslah yang paling banyak dicari, yaitu berupa tanda-tanda yang menunjukkan sebab akibat. Dalam menganalisis makna semiotik novel tersebut dicari tanda-tanda yang menunjukkan sebab akibat bahwa Srintil memang benar seorang ronggeng dengan menunjukkan kalimat atau kata-kata yang menunjukan petanda bahwa ia adalah seorang ronggeng. Tanda-tanda bahwa Srintil seorang ronggeng yaitu karena ia memakai kain sampai ke dada (kemben), ia juga memakai sampur atau kain selendang yang dikenakan di bahunya serta dimakeup sebagai mana ronggeng-ronggeng lainnya yaitu melumuri dirinya dengan tepung bercampur kunyit sehingga kulitnya terlihat terang.
Banyak penonton yang melihat keahlian Srintil dalam melentikkan jari-jari tangan dan banyak orang yang kagum dan terharu melihat Srintil melepas sampur dan menggoyang pinggul. Semua ini membuktikan bahwa Srintil adalah Ronggeng yang ditonton banyak orang dengan keahliannya melentikkan jemari tangannya.
Di pihak lain, karya seni termasuk sastra merupakan tanggapan seniman terhadap dunia di sekelilingnya. Seniman dalam hal ini pengarang, dapat menerima dan menyetujui realitas tetapi dapat juga menolak, memrotes, menggugat, dan mengutuk realitas itu dengan mengemukakan gagasan, kesadaran, dan perasaan dalam karyanya. Hal itu terjadi karena di salah satu pihak adanya kesadaran pengarang yakni kepekaan pikiran, perasaan, dan hasratnya. Di pihak lain karena adanya unsur realitas yakni rangsangan, sentuhan, dan masalah-masalah yang mendorong kesadaran pengarang membuahkan aktivitas berupa karya sastra. Kedua unsur itu harus berada di dalam hubungan tertentu sehingga memungkinkan terjadinya keterarahan yang berprakarsa dari kesadaran manusia. Kesadaran Ahmad Tohari terhadap realitas sosial yang melahirkan RDP dengan segala gagasan yang terkandung di dalamnya.
Makna stilistika RDP karya Ahmad Tohari dikemukakan berdasarkan pendekatan semiotik, interteks, dan resepsi dengan memanfaatkan teori hermeneutik. Hermeneutik mengarahkan pada penafsiran ekspresi yang penuh makna dan dilakukan dengan sengaja oleh peneliti. Peneliti melakukan interpretasi atas interpretasi pengarang terhadap situasi dan lingkungan kehidupannya sendiri. Karena RDP sebagai karya sastra bermediumkan bahasa, maka dalam penafsiran maknanya tidak terlepas dari dimensi bahasa, yang terformulasi dalam stilistika RDP.
Dimensi kultural novel RDP bagi Ahmad Tohari merupakan media untuk mengungkapkan eksistensi budaya atau tradisi Jawa yang kaya nuansa dan kaya nilai, yang tidak kalah dengan budaya modern. Ronggeng adalah kesenian etnik Jawa yang menjadi aset budaya bangsa yang turut memperkaya khasanah kebudayaan nasional bahkan budaya global. Ronggeng merupakan bentuk keberagaman budaya lokal Jawa yang turut memberikan kontribusi bagi pengayaan kebudayaan nasional bahkan bagi kebudayaan global yang multikultural.
Dimensi sosial RDP mengungkapkan bagaimana rakyat kecil sejak dulu sering menjadi korban dari sebuah konflik elit politik demi memperebutkan kekuasaan dengan dalih apapun. Dilukiskan dalam RDP, konflik antarelit politik yang memperebutkan kekuasaan dalam hal ini orang-orang PKI ingin mengganti ideologi negara Pancasila menjadi ideologi komunis telah menjerumuskan bangsa Indonesia ke dalam tragedi politik yang dikenal dengan peristiwa G30S/PKI 1965. Betapa banyak rakyat kecil yang tidak berdosa harus ikut dipenjara atau dibunuh oleh saudaranya yang lain yang berbeda ideologi politiknya.
Dimensi humanistik RDP berakhir unhappy ending dengan hilangnya citra kemanusiaan atau hilangnya akal budi (gila) tokoh utama RDP, Srintil, setelah menerima kenyataan pahit dan didera penderitaan batin yang amat berat secara bertubi-tubi. Deraan batin pertama ketika Srintil mendapatkan kenyataan bahwa cita-citanya menjadi istri Bajus, laki-laki yang selama ini terkesan akan mengawininya adalah sebuah kebohongan. Bajus hanya ingin mempersembahkannya kepada Blengur, demi sebuah proyek pembangunan. Deraan batin kedua ketika Srintil diminta untuk melayani naluri primitif, Blengur, atasan Bajus demi memperoleh sebuah proyek pembangunan, padahal dia sudah bertekad meninggalkan persundalan.
Dimensi moral RDP tidak terlepas dari kesantrian Ahmad Tohari yang menyadari akan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi untuk melakukan pencerahan moral dalam kehidupan manusia. Bahkan, masalah moral atau dalam terminologi Islam dikenal dengan istilah akhlak ini menjadi tugas Rasulullah Muhammad SAW.
Dimensi jender dalam RDP Srintil merupakan simbol perlawanan kaum perempuan terhadap hegemoni kekuasaan kaum laki-laki dalam masyarakat patriarki. RDP dapat dipandang sebagai karya sastra yang mengekspos resistensi kaum perempaun terhadap hegemoni kekuasaan laki-laki melalui tokoh utama Srintil. Di samping ditampilkan sebagai perempuan yang tidak berdaya melawan tradisi dunia ronggeng dari ritual bukak kelambu, duta keperempuanan yang menjadi pemangku hasrat kelelakian, hingga harus menghindari percintaan dengan seorang laki-laki pujaan hati, Srintil ronggeng sang primadona yang populer di kalangan masyarakat sekaligus sundal pun berani menolak laki-laki yang tidak disukainya, meskipun laki-laki itu pejabat yang terhormat di masyarakat.
Dimensi religiositas RDP mampu menunjukkan bahwa Ahmad Tohari bukan hanya seorang sastrawan yang santri saja melainkan santri yang santra. Artinya, seorang muslim yang tidak hanya taat beribadah kepada Tuhan melainkan juga melakukan amal shalih, perbuatan yang baik bagi orang lain. Ahmad Tohari menyampaikan kedalaman ajaran Tasawuf yang mencerminkan berpadunya eksistensi manusia dan eksistensi Tuhan.
Selain menambah pengetahuan bagi pembaca, buku ini juga bisa mempermudah pembaca dalam mengerjakan sebuah penelitian, khususnya dalam kajian stilistika karena isi buku tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh pengarang yaitu Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M. Hum tentang Kajian Stilistika Perspektif Kritik Holistik pada novel Ronggeng Dukuh Paruk. Namun, dalam pengeditan buku tersebut masih ada beberapa kesalahan dalam penggunaan tanda bacanya, mungkin disebabkan oleh kekurangtelitian editor dalam mengedit atau menyunting buku tersebut, terdapat beberapa kata yang sulit dipahami oleh pembaca, terutama istilah-istilah dalam kesastraan.
Pada gagasan isi novel yang dikaji, penulis hanya mengkaji dari tinjauan semiotik, interteks, dan resepsi saja, padahal novel Ronggeng Dukuh Paruk juga dapat dikaji dari tinjauan psikologi sastranya, hal itu terlihat dari pernyataan dalam novel RDP mengajarkan bahwa dalam melakukan sesuatu jangan terburu-buru dan jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Cerita Ronggeng Dukuh Paruk sudah menjadi adat yang turun menurun, kebiasaan itu muncul sejak nenek moyang Dukuh Paruk. Srintil yang harus menjadi korban dari adat tersebut walaupun usianya masih sangat muda. Srintil yang diharuskan menjadi ronggeng dalam desa itu dan harus melakukan ritual yang tidak wajar seperti mandi di depan makam nenek moyang dan diharuskan bersetebuh dengan seorang pria sekedar hanya untuk menjadi ronggeng. Rasus adalah orang yang sangat menentang hal tersebut dan menganggap bukan hal yang wajar, korban yang diharuskan menjadi ronggeng adalah temannya sejak kecil walaupun akhirnya ia yang menggauli temannya sendiri. Tetapi, ia selalu terbayang-bayang akan sosok ibunya yang dulu menjadi ronggeng di dukuh itu. Walaupun pada akhirnya Rasus telah memberi pelajaran yang berharga bagi Dukuh Paruk dan Srintil dengan menolak ajakan menikah dengannya. Sebaiknya agar buku tersebut lebih lengkap lagi bisa ditambah tinajaun penelitiannya, misalnya saja dilengkapi dengan analisis tinjauan feminisme, psikologi sastra, maupun tinjauan-tinjauan lain yang terdapat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari tesebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar