RESENSI BUKU KAJIAN STILISTIKA PERSPEKTIF KRITIK HOLISTIK
Karya: Dr. Ali
Imron Al-Ma’ruf, M. Hum.
Judul Buku : Kajian Stilistika Perspektif Kritik
Holistik
Pengarang : Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M. Hum.
Penerbit : UPT Penerbitan dan Pencetakan UNS
(UNS Press)
Tahun Terbit : 2010
Tebal Buku : 318 halaman
Buku Kajian Stilistika Perspektif Kritik Holistik
merupakan buku karangan Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M. Hum. yaitu hasil modifikasi
atas disertasi penulis dalam meraih gelar Doktor di bidang Linguistik pada
Program Studi Linguistik Deskriptif Program Pasca-sarjana Universitas Sebelas
Maret Surakarta pada tahun 2009.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan stilistika novel Ronggeng Dukuh Paruk
(RDP) berupa diksi,
kalimat, wacana, bahasa figuratif, dan citraan (faktor objektif), memaparkan
latar sosiohistoris pengarang sebagai kreator stilistika RDP (faktor genetik), dan mendeskripsikan makna stilistika RDP secara holistik berkaitan dengan
latar sosiohistoris pengarang berdasarkan tanggapan pembaca (faktor afektif).
Buku ini
terdapat tujuh bab, di antaranya bab pertama yaitu pendahuluan yang membahas
seputar karya sastra, bab kedua merupakan landasan teori dan kerangka berpikir,
yang mana landasan teori menyajikan teori-teori yang digunakan sebagai acuan
dalam analisis data penelitian, sedangkan kerangka berpikir menunjukkan alur
sistematika berpikir dalam penelitian ini. Di dalam landasan teori membahas (1)
stilistika dan bidang kajiannya, (2) gaya bahasa, ekspresi pengarang, dan
gagasan, (3) stilistika dalam kajian sastra, (4) novel Indonesia metakhir, (5)
teori strukturalisme dinamik, (6) teori semiotik, (7) teori interteks, (8) teori
resepsi sastra, (9) teori holistik, dan (10) teori hermeneutik. Bab ketiga
merupakan metode penelitian yang mana penelitian ini menggunakan metode
kualitatif-deskriptif dengan strategi berpikir hermeneutik dalam perspektif
kritik holistik. Penelitian ini merupakan studi kasus tunggal yakni stilistika RDP dan studi kasus terpancang (embedded case study) mengingat fokus
utama penelitian yakni stilistika RDP
sudah ditentukan sejak awal untuk membimbing arah penelitian. Kajian stilistika
RDP ini termasuk kajian stilistika
genetik yakni mengkaji stilistika RDP
karya seorang pengarang, Ahmad Tohari. Sesuai dengan pendekatan kritik
holistik, data penelitian terdiri atas tiga kelompok, yakni data faktor
objektif berupa stilistika RDP yakni
wujud pemanfaatan diksi, kalimat, wacana, bahasa figuratif, dan citraan, data
faktor genetik berupa latar sosiohistoris pengarang, dan data faktor afektif
berupa tanggapan pembaca terhadap stilistika RDP. Sumber datanya adalah pustaka dan narasumber (informant). Pengumpulan data dilakukan
melalui teknik simak dan catat, pustaka, wawancara mendalam (in-depth interviewing), dan focus group discussion (FGD). Validasi
data dilakukan dengan teknik trianggulasi data dan trianggulasi teori.
Pemeriksaan
kredibilitas data dilakukan dengan informant
review, pembuatan data base, dan penyusunan mata rantai bukti penelitian.
Adapun analisis data dilakukan dengan model interaktif dengan langkah reduksi
data, sajian data, dan penarikan simpulan dan verifikasi data. Selanjutnya,
pengungkapan makna stilistika RDP
dilakukan dengan metode pembacaan model semiotik yakni pembacaan heuristik dan
hermeneutik dengan pendekatan teori semiotik, interteks, dan resepsi sastra.
Pada bab
keempat membahas tentang stilistika trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk (faktor objektif). Pada bab ini di antaranya
mendeskripsikan tentang gaya kata (diksi), gaya kalimat, gaya wacana, bahasa
figuratif, dan citraan. Hasil penelitian dengan pendekatan
kritik holistik menunjukkan bahwa faktor objektif yakni stilistika RDP memiliki keunikan dan kekhasan (uniqueness
and speciality) baik segi
ekspresi (surface structure) maupun
segi kekayaan maknanya (deep structure)
yang
tidak ditemukan dalam karya sastra lain sekaligus membuktikan kompetensi Tohari
dalam pemberdayaan potensi bahasa. Hal itu dapat dilihat pada diksi yang unik dan khas Tohari
meliputi kata konotatif, kata konkret, kata serapan, kata sapaan khas dan nama
diri, kata seru, kata vulgar, kata dengan objek realitas alam, dan kata dari
bahasa Jawa. Tiap
jenis diksi tersebut memiliki fungsi masing-masing dalam mengekspresikan
gagasan. Dari tujuh jenis diksi itu, kata konotatiflah yang dominan. Kalimat dalam RDP sangat variatif dari kalimat dengan sarana retorika,
penyiasatan struktur, hingga penyimpangan kaidah. Wacana RDP juga beragam dari gaya wacana dengan kombinasi sarana retorika
dan alih kode. Bahasa
figuratif dalam RDP sangat indah dan
kaya variasi sebagai hasil kreasi Tohari. Dengan bahasa figuratif itu bahasa RDP menjadi ekspresif, asosiatif, dan
estetis. Dari bahasa figuratif yang diteliti yakni majas, tuturan idiomatik,
dan peribahasa, majaslah yang dominan. Citraan kreasi Tohari mampu menghidupkan lukisan,
membangkitkan imajinasi, emosi, dan intelektualitas pembaca. Citraan dalam RDP meliputi tujuh jenis yakni citraan penglihatan, pendengaran,
perabaan, penciuman, gerak, pencecapan, dan intelektual yang dimanfaatkan
Tohari guna memberikan daya hidup, lebih ekspresif, dan mengesankan pembaca.
Dari tujuh citraan itu, yang dominan adalah citraan intelektual.
Bab kelima
membahas latar sosiohistoris Ahmad Tohari dalam stilistika novel Ronggeng Dukuh Paruk (faktor genetik),
di antranya yaitu tentang biografi, karya-karya, latar sosiohistoris Ahmad
Tohari, kondisi sosial-budaya pada dekade 1960-an, karakteristik kepengarangan
Ahmad Tohari, dan faktor-faktor yang melatari lahirnya novel Ronggeng Dukuh Paruk. Bab keenam yaitu
tentang makna stilistika trilogi novel Ronggeng
Dukuh Paruk dalam tanggapan pembaca (faktor afektif), yang terdiri dari
dimensi kultural, dimensi sosial, dimensi humanistik, dimensi moral, dimensi
jender, dimensi religositas, dimensi multikultural dari novel Ronggeng Dukuh Paruk. Bab ketujuh berisi
simpulan implikasi penelitian, dan saran.
Bidang
kajian stilistika yang dianalisis dalam buku ini yaitu pembahasan karya sastra Ronggeng Dukuh Paruk yang memadukan
kajian linguistik (dengan menganalisis diksi, kalimat, wacana, bahasa
figuratif, dan citraan) dengan kajian makna stilistika trilogi novel RDP yang multidimensi dengan
memanfaatkan teori semiotik, interteks, dan resepsi sastra. Selain itu, sejalan
dengan pendekatan kritik holistik, guna memudahkan interpretasi makna RDP, dilakukan pula kajian latar sosiohistoris
Ahmad Tohari sebagai pengarang beserta kondisi sosiokultural dekade 1960-an
yang menjadi latar cerita RDP.
Deskripsi
gaya kata (diksi) pada bagian ini dilakukan dengan memperhatikan wujud kata
sebagai simbol serta maknanya sesuai dengan latar belakang Ahmad Tohari sebagai
pengarang RDP. Kajian diksi RDP juga melihat fungsi kata sebagai
media ekspresi pengarang dalam mengungkapkan gagasan dalam karya sastranya.oleh
karena itu, deskripsi diksi mencoba membuka selubung-selubung misteri kekuatan
makna yang ada di balik kata sebagai media ekspresi pengarang yang berfungsi
sebagai simbol.
Deskripsi diksi dimulai dengan
mengidentifikasi data-data berupa kutipan yang melukiskan penggunaan diksi,
kemudian mengkategorikannya ke dalam jenis-jenis diksi, baru diakhiri dengan
analisis secara induktif dan deduktif disertai dengan argumentasi kritis.
Deskripsi diksi dibagi menajadi tujuh bagian, yaitu kata konotatof, kata
konkret, kata kata serapan dari bahasa asing, kata sapaan khas dan nama diri,
kata seru khas Jawa, kata vulgar, dan kata dengan objek realitas alam.
Dalam
mengkaji gaya kalimat, banyak pemanfaatan gaya kalimat unik dan khas dalam RDP yang sengaja diciptakan oleh Ahmad
Tohari untuk menciptakan efek makna tertentu. Kalimat disusun dengan bervariasi
baik dengan penyiasatan struktur maupun dengan penggunaan sarana retorika
tertentu. Itu sering disebut forgrounding,
pengedepanan dalam sastra guna memperoleh efek makna khusus.
Penggunaan
sarana retorika pada RDP dilakukan
Ahmad Tohari dengan mengkombinasikannya dengan gaya bahasa tertentu seperti
paralelisme, repetisi, antitesis, paradoks, hiperbola, klimaks, dan
antiklimaks. Dengan kalimat-kalimat yang variatif tersebut pengungkapan gagasan
menjadi terasa efektif, ekspresif, dan indah, serta menggerakkan emosi dan
mengembangkan imajinasi pembaca.
Salah satu
unsur stilistika karya sastra adalah gaya wacana. Dalam mengkaji gaya wacana RDP yang diciptakan oleh Ahmad Tohari
cukup bervariasi. pemanfaatan gaya wacana yang beragam itu sengaja diciptakan
Ahmad Tohari untuk mencapai efek makna tertentu dan efek estetis. Oleh karena
itu, dalam RDP benyak terdapat gaya
wacana yang kompleks dengan memanfaatkan kombinasi gaya bahasa seperti
paralelisme, repetisi, klimaks, antiklimaks, dan koreksio. Selain itu juga
ditemukan banyak sekali gaya interferensi dan alih kode. Gaya wacana dalam RDP akan dikaji dalam dua bagian yaitu
gaya wacana berkombinasi dengan sarana retorika dan gaya wacana alih kode.
Bahasa
figuratif diartikan sebagai satuan kebahasaan yang memiliki makna yang tidak
langsung, makna yang terkandung di balik kata yang tertulis (eksplisit). Dalam
karya sastra, bahasa figuratif bersifat prismatis, memancarkan makna lebih dari
satu. Pada dasarnya bahasa figuratif digunakan oleh sastrawan untuk menciptakan
imajinasi dan daya asosiatif pada pembaca sehingga lukisan suasana dan
pengungkapan terkesan lebih hidup.
Bahasa
figuratif sering diterjemahkan sebagai bahasa kias, digunakan oleh sastrawan
untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak langsung. Deskripsi bahasa
figuratif dimaksudkan untuk mengkaji berbagai jenis bahasa figuratif yang
diciptakan, dimanfaatkan, dan diberdayakan oleh Ahmad Tohari dalam RDP. Dalam bagian ini diupayakan
menggali secara maksimal bahasa figuratif yang khas dan unik dalam RDP. Dalam hal ini analisis bahasa
figuratif dikhususkan pada tiga jenis bahasa figuratif yakni pemajasan,
idiomatik, dan peribahasa.
Pemilihan
ketiga jenis bahasa figuratif didasarkan pada alasan bahwa ketiganya mewarnai
kekhasan dan keunikan bahasa figuratif dalam RDP. Pemajasan dalam RDP
diduga cukup dominan dan merupakan hasil kreasi Ahmad Tohari yang orisinil atau
inovatif untuk mengekspresikan gagasan dalam karya sastranya secara estetis.
Salah satu
bentuk penciptaan kerangka seni adalah pemakaian bahasa yang khas melalui
pencitraan. Pencitraan kata dalam karya sastra merupakan daya penarik indera
melalui kata-kata yang mampu mengobarkan emosi dan intelektual pembaca. Dalam
karya sastra, pencitraan kata berfungsi membuat (lebih) hidup gambaran dalam
penginderaan dan pikiran, menarik perhatian, dan membangkitkan intelektualitas
dan emosi pembaca dengan cepat. Pencitraan dilakukan dengan memanfaatkan
kata-kata yang imajinatif dan asosiatif guna menghidupkan gagasan yang
diungkapkan.
Kajian
citraan dimulai dengan mengidentifikasi data-data berupa kutipan yang
melukiskan penggunaan citraan, kemudian mengkategorikannya ke dalam jenis-jenis
citraan, baru dideskripsikan dengan argumentasi kritis pencitraan yang
mengiringinya. Selain itu, dikaji latar belakang pemanfaatan aneka ragam
citraan dalam RDP, fungsi dan alasan
dipergunakannya citraan itu dalam RDP.
Karya
sastra merupakan dunia imajinatif yang merupakan hasil kreasi pengarang setelah
merefleksi lingkungan sosial kehidupannya. Dunia dalam karya sastra dikreasikan
dan sekaligus ditafsirkan lazimnya melalui bahasa. Struktur novel dengan segala
sesuatu yang dikomunikasikan selalu dikontrol langsung oleh manipulasi bahasa
pengarang. Demi efektivitas pengungkapan, bahasa dalam sastra disiasati,
dimanipulasi, dieksploitasi, dan didayagunakan sedemikian rupa. Oleh karena
itu, bahasa sastra memiliki kekhasan tersendiri yang berbeda dengan karya
nonsastra.
Sastra sebagai
karya seni, dalam perkembangan mutakhir tidak hanya bermediumkan bahasa. Sastra
lain ada yang menggunakan medium lain misalnya seperti lukisan, gambar, garis,
atau simbol lain. Bahasa sastra memiliki beberapa ciri khas, yakni penuh
ambiguitas dan homonim, memiliki kategori-kategori yang tidak beraturan dan
tidak rasional seperti jender (jenis kata yang mengacu pada jenis kelamin dalam
tata bahasa), penuh dengan asosiasi, mengacu pada ungkapan atau karya sastra yang
diciptakan sebelumnya atau konotatif sifatnya.
Dipilihnya
stilistika RDP karya Ahmad Tohari karena diduga merupakan salah satu novel
Indonesia mutakhir yang memiliki keunikan dan kekhususan baik segi ekspresi
maupun maupun segi kekayaan maknanya. Pada kriteria pertama, RDP melukiskan latar, peristiwa, dan
tokoh-tokoh yang terdiri atas orang-orang desa yang sederhana dengan menarik,
bahkan tidak jarang sangat menarik. RDP
disajikan dengan cara yang menggugah perasaan ingin tahu, suatu masalah yang
bagi kita sebenarnya sangat lazim. Yang mengasyikan dalam penelitian ini adalah
gambaran tandas yang berhasil dibangkitkan Ahmad Tohari yang mengikis khayalan
indah tentang kehidupan pedesaan di Jawa. RDP
mengungkapkan budaya lokal Banyumas Jawa Tengah yang khas dengan karakteristik,
keunikan, dan permasalahannya dengan cara khas sastra.
RDP
banyak dinilai kritikus sastra memiliki nilai lebih karena keberhasilannya
mengungkapkan fenomena sosial budaya yang khas dalam sistem politik di
Indonesia. RDP memaparkan fenomena
yang belum pernah terjadi di dunia sastra Indonesia, yaitu kehidupan dunia
ronggeng yang khas dengan latar sejarah malapetaka politik G30S/PKI dengan
segala eksesnya.
Stilistika Ronggeng Dukuh Paruk dipandang sebagai
gejala semiotik atau sebagai tanda. Sebagai tanda, karya sastra mengacu pada
sesuatu di luar dirinya. Bahasa sastra yang terformulasi dalam stilistika
merupakan penanda yang menandai sesuatu, dan sesuatu itu disebut petanda, yakni
yang ditandai oleh penanda. Makna karya sastra sebagai tanda adalah makna
semiotiknya, yakni makna yang bertautan dengan dunia nyata.
RDP
karya sastra bermediumkan bahasa yang terwujud dalam stilistika, tentu memiliki
makna yang implisit. Stilistika RDP
merupakan penanda yang memiliki petanda. Artinya, ada makna implisit di balik
stilistika yang eksplisit. Dalam
menganalisis makna semiotik tanda berupa Indekslah yang paling banyak dicari,
yaitu berupa tanda-tanda yang menunjukkan
sebab akibat. Dalam menganalisis makna semiotik novel tersebut dicari
tanda-tanda yang menunjukkan sebab akibat bahwa Srintil memang benar seorang
ronggeng dengan menunjukkan kalimat atau kata-kata yang menunjukan petanda
bahwa ia adalah seorang ronggeng. Tanda-tanda bahwa Srintil seorang ronggeng
yaitu karena ia memakai kain sampai ke dada (kemben), ia juga memakai sampur
atau kain selendang yang dikenakan di bahunya serta dimakeup sebagai mana
ronggeng-ronggeng lainnya yaitu melumuri dirinya dengan tepung bercampur kunyit
sehingga kulitnya terlihat terang.
Banyak
penonton yang melihat keahlian
Srintil dalam melentikkan jari-jari tangan dan banyak orang yang kagum dan terharu
melihat Srintil melepas sampur dan menggoyang pinggul. Semua ini membuktikan
bahwa Srintil adalah Ronggeng yang ditonton banyak orang dengan keahliannya
melentikkan jemari tangannya.
Di pihak lain,
karya seni termasuk sastra merupakan tanggapan seniman terhadap dunia di
sekelilingnya. Seniman dalam hal ini pengarang, dapat menerima dan menyetujui
realitas tetapi dapat juga menolak, memrotes, menggugat, dan mengutuk realitas
itu dengan mengemukakan gagasan, kesadaran, dan perasaan dalam karyanya. Hal
itu terjadi karena di salah satu pihak adanya kesadaran pengarang yakni
kepekaan pikiran, perasaan, dan hasratnya. Di pihak lain karena adanya unsur
realitas yakni rangsangan, sentuhan, dan masalah-masalah yang mendorong
kesadaran pengarang membuahkan aktivitas berupa karya sastra. Kedua unsur itu
harus berada di dalam hubungan tertentu sehingga memungkinkan terjadinya
keterarahan yang berprakarsa dari kesadaran manusia. Kesadaran Ahmad Tohari
terhadap realitas sosial yang melahirkan RDP
dengan segala gagasan yang terkandung di dalamnya.
Makna
stilistika RDP karya Ahmad Tohari
dikemukakan berdasarkan pendekatan semiotik, interteks, dan resepsi dengan
memanfaatkan teori hermeneutik. Hermeneutik mengarahkan pada penafsiran
ekspresi yang penuh makna dan dilakukan dengan sengaja oleh peneliti. Peneliti
melakukan interpretasi atas interpretasi pengarang terhadap situasi dan
lingkungan kehidupannya sendiri. Karena RDP
sebagai karya sastra bermediumkan bahasa, maka dalam penafsiran maknanya
tidak terlepas dari dimensi bahasa, yang terformulasi dalam stilistika RDP.
Dimensi
kultural novel RDP bagi Ahmad Tohari
merupakan media untuk mengungkapkan eksistensi budaya atau tradisi Jawa yang kaya
nuansa dan kaya nilai, yang tidak kalah dengan budaya modern. Ronggeng adalah
kesenian etnik Jawa yang menjadi aset budaya bangsa yang turut memperkaya
khasanah kebudayaan nasional bahkan budaya global. Ronggeng merupakan bentuk
keberagaman budaya lokal Jawa yang turut memberikan kontribusi bagi pengayaan
kebudayaan nasional bahkan bagi kebudayaan global yang multikultural.
Dimensi
sosial RDP mengungkapkan bagaimana
rakyat kecil sejak dulu sering menjadi korban dari sebuah konflik elit politik
demi memperebutkan kekuasaan dengan dalih apapun. Dilukiskan dalam RDP, konflik antarelit politik yang
memperebutkan kekuasaan dalam hal ini orang-orang PKI ingin mengganti ideologi
negara Pancasila menjadi ideologi komunis telah menjerumuskan bangsa Indonesia
ke dalam tragedi politik yang dikenal dengan peristiwa G30S/PKI 1965. Betapa
banyak rakyat kecil yang tidak berdosa harus ikut dipenjara atau dibunuh oleh
saudaranya yang lain yang berbeda ideologi politiknya.
Dimensi
humanistik RDP berakhir unhappy ending dengan hilangnya citra
kemanusiaan atau hilangnya akal budi (gila) tokoh utama RDP, Srintil, setelah menerima kenyataan pahit dan didera
penderitaan batin yang amat berat secara bertubi-tubi. Deraan batin pertama
ketika Srintil mendapatkan kenyataan bahwa cita-citanya menjadi istri Bajus,
laki-laki yang selama ini terkesan akan mengawininya adalah sebuah kebohongan.
Bajus hanya ingin mempersembahkannya kepada Blengur, demi sebuah proyek
pembangunan. Deraan batin kedua ketika Srintil diminta untuk melayani naluri
primitif, Blengur, atasan Bajus demi memperoleh sebuah proyek pembangunan,
padahal dia sudah bertekad meninggalkan persundalan.
Dimensi
moral RDP tidak terlepas dari
kesantrian Ahmad Tohari yang menyadari akan tugasnya sebagai khalifah Allah SWT
di muka bumi untuk melakukan pencerahan moral dalam kehidupan manusia. Bahkan,
masalah moral atau dalam terminologi Islam dikenal dengan istilah akhlak ini
menjadi tugas Rasulullah Muhammad SAW.
Dimensi
jender dalam RDP Srintil merupakan
simbol perlawanan kaum perempuan terhadap hegemoni kekuasaan kaum laki-laki
dalam masyarakat patriarki. RDP dapat
dipandang sebagai karya sastra yang mengekspos resistensi kaum perempaun
terhadap hegemoni kekuasaan laki-laki melalui tokoh utama Srintil. Di samping
ditampilkan sebagai perempuan yang tidak berdaya melawan tradisi dunia ronggeng
dari ritual bukak kelambu, duta keperempuanan yang menjadi pemangku hasrat
kelelakian, hingga harus menghindari percintaan dengan seorang laki-laki pujaan
hati, Srintil ronggeng sang primadona yang populer di kalangan masyarakat
sekaligus sundal pun berani menolak laki-laki yang tidak disukainya, meskipun
laki-laki itu pejabat yang terhormat di masyarakat.
Dimensi
religiositas RDP mampu menunjukkan bahwa Ahmad Tohari bukan hanya seorang
sastrawan yang santri saja melainkan santri yang santra. Artinya, seorang
muslim yang tidak hanya taat beribadah kepada Tuhan melainkan juga melakukan
amal shalih, perbuatan yang baik bagi orang lain. Ahmad Tohari menyampaikan
kedalaman ajaran Tasawuf yang mencerminkan berpadunya eksistensi manusia dan
eksistensi Tuhan.
Selain
menambah pengetahuan bagi pembaca, buku ini juga bisa mempermudah pembaca dalam
mengerjakan sebuah penelitian, khususnya dalam kajian stilistika karena isi
buku tersebut merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh pengarang yaitu Dr.
Ali Imron Al-Ma’ruf, M. Hum
tentang Kajian Stilistika Perspektif Kritik Holistik pada novel Ronggeng Dukuh Paruk. Namun, dalam
pengeditan buku tersebut masih ada beberapa kesalahan dalam penggunaan tanda
bacanya, mungkin disebabkan oleh kekurangtelitian editor dalam mengedit atau
menyunting buku tersebut, terdapat beberapa kata yang sulit dipahami oleh
pembaca, terutama istilah-istilah dalam kesastraan.
Pada
gagasan isi novel yang dikaji, penulis hanya mengkaji dari tinjauan semiotik,
interteks, dan resepsi saja, padahal novel Ronggeng
Dukuh Paruk juga dapat dikaji dari tinjauan psikologi sastranya, hal itu
terlihat dari pernyataan dalam novel RDP
mengajarkan bahwa dalam melakukan
sesuatu jangan
terburu-buru dan jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Cerita Ronggeng
Dukuh Paruk sudah menjadi adat yang turun menurun, kebiasaan itu muncul sejak
nenek moyang Dukuh Paruk. Srintil yang harus menjadi korban dari adat tersebut
walaupun usianya masih sangat muda. Srintil yang diharuskan menjadi ronggeng
dalam desa itu dan harus melakukan ritual yang tidak wajar seperti mandi di
depan makam nenek moyang dan diharuskan bersetebuh dengan seorang pria sekedar
hanya untuk menjadi ronggeng. Rasus adalah orang yang sangat menentang hal
tersebut dan menganggap bukan hal yang wajar, korban yang diharuskan menjadi
ronggeng adalah temannya sejak kecil walaupun akhirnya ia yang menggauli
temannya sendiri. Tetapi, ia selalu terbayang-bayang akan sosok ibunya yang
dulu menjadi ronggeng di dukuh itu. Walaupun pada akhirnya Rasus telah memberi
pelajaran yang berharga bagi Dukuh Paruk dan Srintil dengan menolak ajakan
menikah dengannya. Sebaiknya agar buku tersebut lebih lengkap lagi bisa ditambah
tinajaun penelitiannya, misalnya saja dilengkapi dengan analisis tinjauan
feminisme, psikologi sastra, maupun tinjauan-tinjauan lain yang terdapat dalam
novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari tesebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar